sitemap
Click for Singkep, Indonesia Forecast
EXCHANGE RATES
 Currency  Rates (IDR)
1 USD 11.547,3
1 SGD 9.323,05
1 EUR 15.548,7
1 AUD 10.897,7
1 HKD 1.489,92
1 JPY 113,633
1 CNY 1.875,56
1 TWD 385,39
1 THB 363,346
1 MYR 3.637,44
Update : Fri, Jul 25, 2014
SENTRAInfo.com - Direktori Bisnis Indonesia  SENTRAInfo.com
 Pusat Informasi Bisnis
Celoteh Budak Singkep

Celoteh Budak Singkep is a space to let Singkep people to express him/herself by creating poems, poetries, etc.

Below is  the Celoteh from Singkep people, enjoy it !!!

Viewed 8781 time(s)
Last update on 10 Feb 2006 04:33:21
<< Prev       1 - 10 of 10        Next >>
DABOK KAMPONG SIDAS » Others (Lain-lain)
sIDas Boys Community

Assalammu'alaikum...

Owalaha... kawan tak tahu nak bekate-kate ape disine...

pastinya dabok sebagai kampong anak-anak sIDas, he he he ...

nak bepanton, Lidah kawan tebelet-belet .

nak Komen masalah Poilitek, kawan tak paham sangat.

Kalo gitu kawan nak salam-salam untok alumni sIDas... Syaiful n junai kebon yang dikambar, dedy belande yang di belakang pasar, junaidi yang di Aspol,dkk :-)

 

 

Nah , kawan ade sediket Pertanyaan yang gundah gulane :-)

Kawan kadang heran, ngape anak-anak dabok yang berada ditempat orang laen( Rantauan) tekesan Apatis/Sombong sesame sekampong ...

ape mungkeng karne sibok sangat tu orang2 ye ???

apapon itu, besar harapan kawan ne tu kite2 semue yang ade diperantauan bise satupadu n solider sesame sekampong ...

tentunye untok membangun kampong kite ke arah yang lebih majuuuu ...

kepade pemerintah, khususnye PemKab.Lingga... Mane Responnye terhadap anak-anak negeri ne , khususnye masalah PENDIDIKAN...

banyak anak-anak negeri kite yang berkualitas dan seharosnyelah diperhatikan demi perkembangan mereka dan pada akhirnya untok balek ngabdi kepade tanah Tumpah Dabo Singkep ...

 

Aduuuhhh... rasenye pecume juge kawan cakap panjang leba disini, masalahnye kawan tak tahu lagi nak komen ape!!!

tapi, moge ne bise dilihat sebagian anak-anak dabo n kite bise besame-same bepangku tangan untok membangun negeri dabo ne.

 

Posted on 29 Nov 2008 07:27:21 by Hendra sIDas Last update on 29 Nov 2008 07:41:56
 
MENJADI SESAMPAN DAN SEHALUAN » Poetry (Puisi)
dari Ch. Paschal. St. Esong (sedang belajar hidup di SUMUT)

.....Ketika sampan Kabupaten ini sudah berlayar, kita pasti tak menuju sebuah pulau kosong. Kita berkayuh ke sebuah pulau idaman dengan pelabuhan cinta yang damai tempat kita menikmati birunya laut, riuhnya ombak, nyanyian camar dan ribuan ikan yang muncul ke permukaan....menemani sampan kita.....
 

TAPI....
kita meski sesampan dan sehaluan
walau seadanya
sampan kita harus tangguh, sampan kita harus handal, sampan kita harus kuat, sampan kita harus solid, sampan kita harus percaya diri
....tanpa itu.....
perjalanan kita hanya akan menuju sebuah pulau kosong.
.........


Sesampan dan sehaluan
Hanya ada jika kita peduli akan nasib kita.
Kita terpanggil justru didorong oleh kemauan bergandeng tangan, terbuka, sharing, saling menghargai, volunteer, plus action dan plus signs.
Tanpa itu
Perjalanan kita hanya akan menuju sebuah pulau kosong.

Sesampan dan sehaluan
Hanya ada jika kita peduli akan nasib kita.
Kita terpanggil justru didorong oleh kemauan bergandeng tangan, terbuka, sharing, saling menghargai, volunteer, plus action dan plus signs.
Tanpa itu
Perjalanan kita hanya akan menuju sebuah pulau kosong.


 Kegagalan kita adalah karena sampan kita tak pernah seide,
 sampan kita tak pernah seperasaan,
selangkah,
 seirama,
sepenanggungan,
sesuara.....
 lalu
kita sibuk mencari kambing Hitam
.......Malu untuk mengalah
Malu mengakui kesalahan...
Tetapi bangga di atas kebodohan.....
Di sudut-sudut jalan, ditaman di tengah kota, di dalam rumah, di kedai-kedai kopi tempat kita membunuh waktu dengan kesia-siaan dan dosa...... 

 Kegagalan kita adalah karena sampan kita tak pernah seide,
 sampan kita tak pernah seperasaan,
selangkah,
 seirama,
sepenanggungan,
sesuara.....
 lalu
kita sibuk mencari kambing Hitam
.......Malu untuk mengalah
Malu mengakui kesalahan...
Tetapi bangga di atas kebodohan.....
Di sudut-sudut jalan, ditaman di tengah kota, di dalam rumah, di kedai-kedai kopi tempat kita membunuh waktu dengan kesia-siaan dan dosa...... 


 Siapa lagi yang akan mengayuh sampan ini selain kita yang berdiri di ujung pelabuhan tua....
Menatap fajar yang baru bersinar....
Melihat nelayan yang baru pulang
Atau sisa-sisa kejayaan masa lalu yang tinggal cerita.....
  Ataukah kita tenggelamkan sampan kita sendiri sebelum kita berlayar?
 

 Siapa lagi yang akan mengayuh sampan ini selain kita yang berdiri di ujung pelabuhan tua....
Menatap fajar yang baru bersinar....
Melihat nelayan yang baru pulang
Atau sisa-sisa kejayaan masa lalu yang tinggal cerita.....
  Ataukah kita tenggelamkan sampan kita sendiri sebelum kita berlayar?
 

Kita mungkin meski bersyukurlah bahwa kita masih diberi waktu
Waktu untuk mengayuh sampan kita
Bertolak ke pulau harapan

Mungkin sudah saatnya secara jujur kita buat pemetaan asset sampan kita yang sebenarnya, melalui langkah ABCD (Asset Based Community Development)
baik pemetaan asset person, maupun asset materi.
Siapa yang kita anggap bisa menopang mimpi kita ini...
Apa yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan mimpi ini....
Mungkin sudah saatnya pula kita mencari informasi yang selengkap-lengkapnya dalam lingkup sampan yang kita dayung, kita tumpangi,
Kita buat pemetaan informasi melalui langkah CIPS (Community Information and Planning System)
Bukan sebaliknya mencari informasi yang tidak lengkap...
Mungkin sebaiknya pula kita lakukan pemetaan nilai melalui SWOT...
Secara obyektif menilai intern kita maupun persoalan ekstern sampan kita...
Kita kritisi secara holistic lingkup pemberian diri kita....
 Kita buat pemetaan program (planning).
yang real, timed, kontinuitas, achieveable, holistic
Pemetaan Aksi (Action) yang sudah kita seleksi secara matang...
Pemetaan evaluasi dimana kita memberi kesempatan bagi orang lain untuk mengevaluasi kita...
Pemetaan monitoring dengan peta pemantauan yang mengisi keseluruhan waktu, bukan temporal, tetapi dimana ada hidup di situ monitoring....
Semuanya ini dilakukan oleh komunitas sesampan dan sehaluan...
Tanpa itu kita hanya menuju sebuah pulau kosong...


Cukuplah kegagalan-kegagalan yang mungkin kita buat selama ini....
Biarlah yang lalu berlalu bersama angin laut yang datang menghampiri kita..
Inilah saatnya kita sungguh berlayar,
Bertolak menuju pulau Idaman dengan pelabuhan cinta yang damai tempat kita menikmati birunya laut, riuhnya ombak, nyanyian camar dan ribuan ikan yang muncul ke permukaan....menemani sampan kita.....
 Mumpong lagik ade waktu...
  Ch. Paschal St. Esong
Budak kampong batu kacang (kebon sirih), sekarang lagik nuntut ilmu di Medan (SUMUT)

Posted on 06 Sep 2007 03:19:57 by Ch Paschal St. Esong Last update on 06 Sep 2007 03:53:11
 
PROBLEM SINGKEP » Others (Lain-lain)
Penulis: Yuliman Gamal, Penyunting: Firdaus LN :: Canberra, 14 Juni 2001
Canberra, 14 Juni 2001
 
Assalamualaikum Wr.Wb
 
Dari hasil dialog Aheng dengan kawannye di milis [Singkep] Dialog "Bilateral   Singkep" via email jalur pribadi, ade 9 poin yang saye catat.
 
Pendapat saye ini ade kaitannye dengan ilmu "Studi Ekonomi Pembangunan" yang  pernah saye dapatkan pada Kursus Perencanaan Pembangunan Daerah di LPEM-UI  tahun 1997 yang lalu digabong dengan pengalaman saye sebagai Staf Bappeda Tk.II  dan Tk.I Jambi. Pakar-pakar ekonomi pembangunan silekan beri kritik.
 
1. Banyak orang yang tidak peduli lagi dengan Dabosingkep.
  
Betol, orang-orang yang tak peduli ni adelah orang-orang yang tak punye   ikatan moral atau ikatan bathin dengan Dabok. Tak punye 'sense of belonging'  terhadap Singkep. Secare hukum ekonomi, tindakan   mereke tak salah, karne  takde kepentingan ape-ape lagi dengan Dabok. Tapi      secara sosial, ini  mencerminkan sikap orang-orang yang tak tahu terime kaseh   terhadap daerah  dimane mereke pernah makan, minum, tido, bareng, kontak     sosial, pernah  menjadi tempat sandaran hidup, etc. Hendaknye kite yang   tegabong dalam milis  ni tak macam tu sifat kite.
 
2. Mau ikut presentasi di Dabok asal se-ide.
 
Justru presentasi yang akan diadekan di Dabok itu adelah untuk menyamekan  persepsi, bukan untuk   menonjolkan pendapat satu orang, satu kaum atau   golongan. Hendaknye   sifat-sifat egosentris seperti ini dibuang jaoh-jaoh  demi tercapainye kepentingan bersame membangun Dabok.
  
3. Dabok hanye bisa berkembang kalau ada kegiatan ekonomi. (harus ade investor), syaratnye   Dabok dipoles menjadi daerah  "menawan"....caranya: memoles infrastruktur, birokrasi,sumber daya alam, sumber daya  manusia, image   dabosingkep sendiri.
 
Siapepon tahu itu. Membangun Dabok kembali tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terbangunnye kembali suatu daerah sangat ditentukan oleh minimal 2 
faktor:
1. Aktivitas perekonomian
2. Aktivitas pemerintahan
 
Secare sederhane kite bise tengok contoh antare pembentukan kota Canberra sebagai "kota pemerintahan" dan kota Sydney atau Melbourne sebagai "kota ekonomi". Canberra sejak awal terbentuknya memang dirancang sebagai kota  pemerintahan. Sebaliknya Sydney dan Melbourne sudah tumbuh karena adanya  aktivitas perekonomian.
 
1. Aktivitas perekonomian Dabok bise bangun kembali apebile Pemda setempat secare jeli melihat potensi itu. Banyak sektor pembangunan yang bile dikelola dengan baik akan menghasilkan 'value added' dan bise 'multiplier effect' yang  lumayan. Salah satu contoh: sarang burung walet. Ini bukan maen luar biase  apebile dikembangkan. Selain 'private sector', public sector pun bise kelola ini. Sektor yang masuk sektor perdagangan ini akan menhasilkan nilai tambah  yang besar untuk perekonomian Dabok. Bise dibayangkan saje bile 1 kg berharge  jual 7-8 juta rp (maaf, kalau sudah berubah), berape income yang dihasilkan bile produknye sekwintal? Dengan berkembangnye sektor ini akan menimbulkan 'multiplier effect' seperti  pembangunan prasarana dan pengadaan sarana.
  
Sektor laen yang bise seperti perikanan. Saye rase masih banyak potensi laot  yang kite punye dengan sasaran pasar Batam dan Singapur. Adekah investor yang  mau kembangkan potensi perikanan ini dengan membangun pabriknye di Dabok (sesuai 'Location Theory')? Keterkaitan antare Sektor Perikanan dengan Sektor Industri Perikanan akan menghasilkan "linkage effect" yang besar dan memberi  effect terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), karne nilai hasil  industri (melalui pengolahan) nilainya jauh besar apebile produk itu dijual  mentah.
 
Yang laen lagi, adekah pengusahe-pengusahe yang mau mengolah hasil perkebunan/pertanian menjadi produk hasil pertanian/perkebunan seperti:
- mengolah kelape mude menjadi sari kelape mude dalam kaleng
- mengolah cincau dalam kaleng
- mengolah lidi menjadi sapu lidi berwarne warni (contoh: ini cukup laku  di Jambi)
- mengolah hasil-hasil hutan menjadi produk kualitas bermutu (seperti      
  pungkes, rage rotan,   meubel, etc).
- dll, banyak sekali. itu diatas contohnye saje.
 
Apebile sektor primer (pertanian,perikanan, perkebunan dan perikanan,   termasuk tambang pase-yang maseh pro-kontra ini) telah bekembang dan diolah menjadi sektor sekunder (industri), itu akan menimbulkan sektor tersier   (sektor jasa). Sektor jasa akan sangat berperan dalam perkembangan    selanjutnye, karne sektor primer dan sekunder akan lancar bile didukung oleh sektor tersier (jasa). Sektor primer akan memberikan "forward linkage" terhadap sektor sekunder, sebaliknye sektor sekunder akan memberikan "backward linkage" terhadap sektor primer.
 
Tugas Pemda Tk.II Kepri lah yang dapat melihat secare jeli serte "kesadaran" pengusahe-pengusahe setempat yang dapat mendukung program ini. Kalau mengandalkan Pemda Tingkat Kecamatan, dengan sistem pemerintahan   sekarang ni, "nonsense" sajelah hal itu akan terwujud. Pengalaman saye di   
Kabupaten Sar-ko (Jambi sane), Pemda setingkat kecamatan tak bedaye ape-ape, karne penyusunan anggaran dan pembagian "kue pembangunan" ditentukan oleh Pemda Tingkat II. Kecamatan tak punye anggaran khusus untuk itu. Karne itu percepatan pembentukan Kabupaten Singkep-Lingga-Senayang akan mempercepat roda perekonomian daerah ini.
 
2. Aktivitas Pemerintahan akan memberi dampak pada "ribbon development".
 
Sayang sekali ide pembentukan Kabupaten Singkep tidak terbentuk pade tahun sebelum 1980-an. Ape sebab? Cobe kite bandingkan kasus "Singkep" dan kasus "Belitung". Pada saat timah habes di Dabok, status Singkep masih kecamatan.  Sebaleknye pada saat timah habes di Belitung, status Belitung adelah 
 kabupaten. Beruntunglah Belitung yang masih punye anggaran pembangunan  sehingge tak terbentuk "Pulau Hantu", sehingge mereke maseh bise "menempel" ?economic activity" masyarakatnye. Sedangkan Singkep? Sekali lagi, Pemda kecamatan tak punye wewenang ape-ape!!
 
Kite cube bandingkan antare Singkep dengan beberape kabupaten di Jambi, kalau kite balek ke tahun belakang, Kabupaten Sar-Ko pade tahun 1980, jumlah unit kendaraannye masih bise dihitung dengan jari, tapi sudah tebentuk kabupaten.  Dabok pade tahun 1980 kite tahu sendiri dengan masih aktifnye PT.Timah. Contoh  lain adelah Kuala Tungkal. Kota ini pade awalnye sangat "semak-samon" karne
 merupekan lokasi rawa-rawa. Tapi karne merupekan pusat pemerintahan Daerah Tingkat II Kab. Tanjung Jabung, make otomatis berkembang dengan sendirinye.  Padahal bile kite bandingkan Dabok dengan Kuala Tungkal pade tahun 1980, make  Kuala Tungkal "tak ade ape-apenye".
 
Kalau kite tak punye anggaran sendiri susah nak bangun. Ape-ape ditentukan  oleh orang-orang non Dabok yang ade di Pemda Kepri. Nah tentulah orang-orang non-Dabok itu akan pike tentang pembangunan daerah die saje. Inilah   salah satu kelemahan (kalau tidak bise dikatekan keculasan) aparat Pemda   suatu  Kabupaten. Ini sudah jamak dan terjadi dimane-mane, bukan hanye di   Kepri
saje.
  
4. Dabosingkep saat ini tak terurus (contoh:rumput tinggi2)
    - Solusi: gotong royong anak sekolah-tak perlu biaya
 
Memang mudah becakap tentang hal ini, tapi ape kite tak tahu bahwe tugas pelajar adelah untuk BELAJAR bukan untuk "CLEANING SERVICE". Sekali-due bolehlah pelaja-pelaja itu diikutkan dalam kegiatan gotong royong  membersihkan rumput, sampah dsb. Tapi jangan pakse mereke sebagai pekerje kebersihan. Aturannye yang bersih-bersih itu adelah tugas pemerintah. Di negare maju, itu sudah di privatisasikan sehingga bukan tugas aparat Pemda lagi. Singkep adelah kecamatan yang tak punye Dinas   Kebersihan yang notabene  TAK PUNYE ANGGARAN SENDIRI untuk itu. Anak-anak sekolah tak bise diandalkan  untuk membuat Dabosingkep menjadi bersih seluruhnye. Rasio antare satu orang  pelajar dengan luasan yang harus dibersihkan sangat tidak masuk akal. Berikan mereka pendidikan yang cukup tanpa harus melibatkan mereke dengan kegiatan yang sangat kecil relationshipnya dengan pendidikan mereka. Lebih baik bekali mereka dengan pendidikan moral atau agama yang cukup setelah pendidikan formal yang  mereka dapatkan di sekolah.
 
5. Pejabat- pejabat di dabosingkep ini tak punye ide, taunye minta duit aje dari pedagang   toko,perusahaan paser.
 
Satu lagi jangan sampai aparat Pemda/Kecamatan "mengemis" kepade pengusahe untuk alasan kegiatan pembangunan di Singkep. Ini sangat memalukan dan melahirkan "mental budak" bukan "mental penguase". Ini memang jamak dan terjadi dimane-mane khususnya di daerah dimane  komunitas pengusahe warga Tionghoa  mendominasi perekonomian setempat. Hasil "mengemis" ini bise melahirkan Kolusi, Korupsi, dan Nepostisme (KKN) dalam segalam urusan sehingge selain memperburuk citra aparat juge akan menjadi  "borok" yang sulit diberantas.
Kalau kite dengar atau bace di koran/majalah, banyak pejabat yang senang bertugas di Riau karena banyak penghasilan tambahan, salah satunye ye seperti  kegiatan "mengemis" ini (memang tidak semua).
 
Mengenai tak adenye ide, begitulah kalau aparat sudah masuk birokrasi. Seperti  kate pelawak Bagio, kalau sudah duduk lupe berdiri. Hari-hari hanye mengisi rutinitas. Kalau pon ade yang idealis, itu sangat sedikit dan biasenye  "tersingkir" dari arena.
 
6. Maunye untuk presentasi di Dabok, tidak ade yang presentasi sendiri, perlu didukung teman-teman lain.
 
Ada ide gimana kalau dabo dibikin jadi kota wisata yg alamiah ! (karena pernah lihat  suatu kota   yg   hanya mengandalkan keindahan kota sbg  daya tarik !)
Memang begitu. Kalau pengen presentasi untuk masalah yang cukup kompleks sangatlah mustahil bile dilaksanakan secara "single fighter". Tapi saye secare  pribadi akan membantu selame pade waktu presentasi itu saye tak punya  kesibukan, tapi kalau ade kegiatan yang "wajib" yang harus saye penuhi ditempat  tugas, ape mau dikate?. Untuk itu perlu "pelapis-pelapis" lain yang siap untuk melakukan ape yang bise mereke berikan untuk Singkep.
 
Mengenai kota wisata yang alamiah memang masuk dalam konsep "Eco-tourism". Ini memang sedang populer di daerah-daerah tingkat II seluruh Indonesia. Langkah pertame memang perlu inventarisasi objek ape yang bise "dijual" sebagai 'database'. Selanjutnye tinggal langkah Pemda setempat untuk implementasinye.  Soalnye tanpa 'policy' Pemda setempat akan sie-sie, karne bile private sector melakukan suatu kegiatan tanpa dasar hukum yang kuat, itu akan mencelakakan dirinye sendiri.
 
7. Selame camat/lurah/pejabat penting lainnye bukan orang dabo asli aku rase susah nak maju   Dabosingkep. kalau orang luar datang ke dbs, mereke cume nyari  duit aje selama menjabat..
 
Ini ade benarnye ade tidaknye. Sudah rahasia umum apebile seseorang menjabat  jabatan tertentu di tempat bukan daerah asalnye, make perasaan memiliki  terhadap daerah dimane die menjabat akan sangat kurang bile dibandingkan apebile die "memerintah" di tempat asalnye. Tapi belum tentu juge bile orang  Dabo asli  memerintah make Dabok akan dengan mudah maju tanpa 'faktor eksternal' dan moral si pejabat itu sendiri. Walau putra daerah, tapi "degel"nye minta ampon dan sudah tercemar penyakit KKN yang sudah berkarat, ape  ade jaminan bahwa Dabok akan maju?
 
8. Begitu juge dengan guru-guru non-Dabok
 
Problem yang dihadapi para guru saat ini sangat menyedihkan. Saye bise merasekan kepedihan mereke setelah secare langsung melihat kondisi pare guru di  daerah-daerah terpencil di Propinsi Jambi. Gaji yang tidak cukup tambah  potongan macam-macam sangat memperburuk kondisi mereke. Makenye bile mereke  melakukan "komersialisasi pendidikan" itu semate-mate untuk kebutuhan perut.
Jarang ade guru yang kaye raye. Satu-due ade kite tengok guru-guru yang DIKTATOR atau Jual Diktat Beli Motor, tetapi secare komparatif sangatlah kecil. ntuk itu program peningkatan kesejahteraan para guru perlu didukung agar mereke melakukan yang terbaik untuk anak didik. Kalau dikatekan guru Dabok atau  non-Dabok, ade juge guru asal Dabok yang tak terlalu merisaukan tentang apekah  anak didik mereke ngerti atau tidak dengan pelajaran yang mereke sampaikan.
  
9. Kalau memang mau bikin yayasan atau apelah, boleh aje...asal ingat yg  penting action bukan on the   paper only atau in the mind !!! jangan cuma  NATO...No Action Talk Only !!!
 
Ini memang suatu tantangan. Para konseptor sering  menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam   mengaplikasikan gagasan mereke. Karena itu jangan patah  semangat dengan sebutan-sebutan seperti itu. Tapi untuk diingat, tidak ade  suatu kemajuan dalam bentuk apepon tanpa "dikonsep" awalnye walaupun konsep itu  sederhane.
 
10. Kalau mau kite kumpul atau bikin diskusi via e-mail dan tentukan ape langkah kite, setelah itu kite balek ke dabok satu team, kumpulkan orang2  penting disane, bikin presentasi ke mereka apa rencane kite dan apa support  dari mereke yg kite butuhkan ? what do you think ?
 
Ini memang kite kerjekan sekarang ini. Dari hasil kirim-kirim email ini pasti akan berbuah suatu manfaat. Itu akan tercipta bile anggota milis Singkep ii ikut partisipasi dalam diskusi walaupun sekedar menulis sepuluh kate saje.  Insya Allah, mari kite berjuang same-same, jangan hanye mengandalkan satu-due orang saje.
 
Demikian sumbangan pikiran saye, semoge bermanfaat.
 
Penulis:
Yuliman Gamal
Fakultas Environmental Design
Jurusan Urban Management
(Master Degree)
University of Canberra
Australia
Posted on 07 Mar 2006 21:34:03 by Johky Cheng Last update on 07 Mar 2006 21:34:03
 
MUBES SELINGSING » Others (Lain-lain)
Oleh: Firdaus LN, Budak Kampung Tengah Rt 01/Rw 02 Raya Singkep, Dabosingkep 29171, Kabupaten Kepulauan Riau :: Sabtu, 05 Mei 2001 12:44:46
Bismillahirrahmannirrahim
Assalamu’alaikum wr wb.,
 
Salam Mubes
 
Terime kaseh atas informasi soal Mubes Singkep
 
Saye, Drs. Firdaus LN, M.Si., Dosen FKIP Universitas Riau, NIP 131859508 atas name pribadi menyampaikan PERNYATAAN SIKAP, USULAN dan KONTRIBUSI PEMIKIRAN sempena Mubes Singkep yang hendak ditaja tersebut sbb:
 
Oleh karena setakat ini saya sedang merampungkan Studi Program Doktor (S3) di Montpellier, Prancis (sejak 8 Juni 1998)---yang InsyaAllah akan berakhir sebelum 30 September 2001, maka melalui pesan email ini saya menyampaikan Permohonan maaf kepada seluruh Masyarakat Singkep, utamanya kepada wakil Mubes dari Pulau Singkep bahwa saya tidak dapat menghadiri Forum Mubes tersebut, meskipun sangat berkeinginan untuk duduk bersama wakil yang lain di tengah-tengah forum tersebut.
 
Semoga 100 wakil dari Pulau Singkep yang telah diutus oleh Orang Kampung untuk kemajuan pembangunan Singkep Pasca Timah dalam bingkai pemekaran Wilayah Kabupaten SeLingSing, benar-benar menyuarakan dan menjunjung tinggi kehendak Orang Kampung Pulau Singkep demi kejayaan Singkep sekarang dan masa Depan.
 
MENGUTUK, bila ada di antara wakil dari Pulau Singkep ini ada yang memanfaatkan Forum Mubes dalam bingkai Pemekaran Wilayah Kabupaten SeLingSing untuk tujuan Kepentingan Politik Praktis yang menguntungkan diri pribadi/kelompok/golongan yang mengatasnamakan ORANG KAMPUNG PULAU SINGKEP, APA PUN RUPA DAN BENTUK MANISFESTASI DARI POLITIK PRAKTIS TERSEBUT, KECUALI UNTUK KEMAKMURAN SELURUH MASYARAKAT SINGKEP DAN KABUPATEN SELINGSING.
 
HARAPAN DAN SUMBANGAN PEMIKIRAN:
 
Para Wakil Masyarakat Singkep dapat memperjuangkan via Forum Mubes agar DABOSINGKEP dapat dipilih sebagai IBUKOTA KABUPATEN SELINGSING. Harapan ini terutama didasari oleh realitas bahwa infrastruktur yang ada di Pulau Singkep hingga saat ini cukup memungkinkan (Air Port, Dermaga laut, Aset Perkantoran Pasca Timah, Stasiun Relay TV, PLN). Selain itu tentu saja demi percepatan pembangunan Pulau Singkep Pasca Timah. Sehingga dengan demikian, alokasi dana untuk pembangunan Ibukota Kabupaten Baru tidak banyak dihabiskan untuk membangun infrastruktur baru, sehingga alokasi dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, utamanya pembangunan Sumber Daya Manusia melalui Institusi Pendidikan dan Percepatan pembangunan Ekonomi Kerakyatan seperti yang telah dituang dalam Visi dan Misi pembangunan Riau dua puluh tahun ke depan.
 
Forum ini juga diharapkan mampu melahirkan kesepakatan agar demi kejayaan Kabupaten seLingSing di masa depan, untuk:
 
TIDAK MEMBERIKAN IZIN DALAM BENTUK APA PUN KEPADA INVESTOR UNTUK MELAKUKAN BISNIS PENAMBANGAN YANG TIDAK MENJUNJUNG TINGGI KAIDAH-KAIDAH KONSERVASI LINGKUNGAN HIDUP, BAIK DARAT MAUPUN LAUT DI WILAYAH KABUPATEN SELINGSING DAN MENUTUP USAHA PENAMBANGAN PASIR DARAT DAN LAUT YANG SEKARANG HADIR DI PULAU SINGKEP DAN SEKITARNYA.
 
TIDAK MEMBERIKAN IZIN DALAM BENTUK APA PUN KEPADA INVESTOR MEMBUKA BISNIS PROSTITUSI DALAM WILAYAH KABUPATEN SELINGSING BILAMANA KABUPATEN INI NANTINYA BERHASIL DIMEKARKAN DAN MENOLAK MASUKNYA PROSTITUTOR DARI LUAR KE PULAU SINGKEP DAN SEKITARNYA.
  
MENEMPATKAN PEMBANGUNAN SUMBERDAYA MANUSIA ANAK-ANAK PULAU SINGKEP PADA PAPAN ATAS DALAM KANCAH PEMBANGUNAN SINGKEP SEKARANG DAN MASA DEPAN DI SEMUA DIMENSI DAN LINI PEMBANGUNAN DAERAH AGAR MAMPU BERKOMPETISI DALAM PERSAINGAN GLOBAL ANTARA BANGSA DI DUNIA.
 
Demikianlah pernyataan sikap, harapan dan kontribusi pemikiran ini secara pribadi saya sampaikan. Akhirnya dari perantauan saya mengirim doa, Semoga Allah SWT memberikan kekuatan lahir dan bathin kepada seluruh masyarakat di Wilayah Singkep, Lingga dan Senayang yang terhimpun melalui MUBES PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN SELINGSING untuk melahirkan kesepatakan-kesepakatan yang akan membawa masa depan masyarakat kita kearah yang mebih maju dari hari ini.
 
Kurang silahkan ditambah, lebih dibuang saja, kuurang berkenan, mohonlah dimaafkan. Selamat bermusyawarah dan jaya selalu untuk Kabupaten SeLingSing yang diidamkan.
 
Wassalam dan Maaf,
 
Ttd
Firdaus LN
Posted on 07 Mar 2006 21:24:07 by Johky Cheng Last update on 07 Mar 2006 21:26:24
 
ANTARA NOSTALGIA DAN IMPIAN DARI LENSA DISKUSI KONSTRUKTIF » Others (Lain-lain)
Oleh: Julie Saidi :: Yogyakarta, 21 mei 2001
Prakata
Siapakah ‘kita’ yang hadir di sini? Berada dalam ruang, waktu dan gerak yang tak sama tapi berpikir ke arah yang sama? Mengapa kita bisa seperti itu? Apakah karena kita berasal dari satu daerah yang sama ataukah karena kita tak mau dianggap bodoh jika hanya diam dan mengangguk kuat-kuat begitu satu ide dilontarkan: takut dianggap tak gaul alias tak berwawasan. Seperti itukah kita? Tentu saja tidak! Kita duduk di tempat berlainan, mengorbankan waktu dan sejuta kegiatan untuk memelototi layar komputer, menekan tuts demi tuts, merajut ide dan merangkai kata untuk saling berbagi - demi apakah semua itu? Apa yang ingin kita capai dengan semua pengorbanan itu?
 
Tiba-tiba banyak ide mengalir, banyak pemikiran bergulir dan hari-hari bergerak liar dalam diskusi demi diskusi tanpa tepi. Akan ke mana semua bermuara? Akan ke mana semua kata berlabuh dan akan ke mana kita palingkan wajah ketika letih singgah tak tertahan? Sebagian kata bergulir dalam nada-nada nostalgia, sebagian terajut dalam warna amarah dan dendam, pun tak kurang yang melayarkan kata-kata dalam ketakberdayaan akan sebuah kemenerimaan: satu-satunya yang bisa dilakukan. Tapi yang paling menggembirakan adalah masih banyak yang mendayung perahu impian. Mendayung perahu impian dalam imajinasi tentang sebuah pulau kecil yang disebut ‘small dot in the map’ dalam wacana konstruktif: indahnya andai small dot itu berubah menjadi red dot (meminjam istilah sutrisno saidi). Titik kecil berwarna merah: walau kecil tetap mampu untuk ikut bergerak dalam dinamika dunia yang tak ramah. Bukan pulaunya yang dituju tapi penghuninya. Apakah itu fokus dari semua bicara yang selalu bergema?
 
Tulisan ini hanyalah senarai dari sekian banyak pemikiran yang bergulir dalam beberapa bulan belakangan sejak website dan mailgroup bergulir di di tengah kehidupan rutin kita. Sebuah gairah dari dunia maya. Pembicaraan di ruang maya, yang coba untuk diwujudkan dalam realitas tak semu. Meskipun banyak sekali keterbatasan yang saya miliki, izinkan saya untuk ikut dalam revolusi pemikiran dan pembangunan ide-ide yang realistis.
 
DABO SINGKEP: IMPIAN ATAUKAH SEKEDAR NOSTALGIA?
 
Zaman keemasan memudar begitu cepatnya. Segala kemudahan berganti kegetiran dan keprihatinan yang terus menerus disesali. Tiap hari habis untuk meratapi puing-puing yang dulu begitu dibanggakan. Tak sadar bencana baru mengancam. Terjebak dalam romantisme masa lalu. Ketika pertama duduk diskusi kitapun sama: bernostalgia sambil reuni dengan teman dan sahabat lama.
 
Menyenangkan sekali. Tapi hidup adalah perjalanan yang tak pernah menunggu kita siap untuk menjalaninya. Berada di manakah kita seharusnya? Ada kata-kata bijak yang entah punya siapa: dalam hidup jangan pernah berhenti bermimpi karena ketika mimpi berakhir, hidup pun selesai. Jadi mari kita terus bermimpi tentang semua hal. Bermimpi tentang Dabo yang seperti Melbourne, Dabo yang seperti Malaysia dengan supermarket terapungnya ataupun Dabo yang kecil, tenang, tapi penuh manusia-manusia canggih dan luhur yang tak luntur karena materi.
 
Konsep mana yang akan kita pakai? Konsep berbasis nostalgia untuk mengejar dan mengembalikan kejayaan masa lampau? Ataukah konsep berbasis sejuta mimpi yang terus bergerak tak pernah usai? Kita bisa memilihnya dengan sangat bijak kalau kita tahu akan kemana melangkahkan kaki kita. Kita akan melangkah pasti jika kita punya visi dan profesionalisme yang tangguh. Punyakah kita kedua alat itu?
 
Paradigma nostalgia dan paradigma impian bukan suatu logika absurd. Mari kita bercermin dan bertanya pada hati kita: apa yang sebenarnya paling kita inginkan untuk memaknai sang hidup. Apa yang paling kita inginkan untuk berkarya sebagai bagian dari aktualisasi kehadiran kita sebagai sang khalifah di muka bumi ini? Dan mari kita duduk untuk saling mendengar ide naif, bombastis, revolusioner bahkan sampai pada ide-ide yang sarat ambisi pribadi. Semuanya wajar dan sah saja bukan? Mari kita saling merenung untuk memahami: saat ini ide-ide kita berada pada tataran apa? Tataran sekedar bernostalgia ataukah tataran impian-impian sederhana yang sangat mungkin diwujudkan jika kita punya goodwill untuk bergerak mewujudkannya.
 
APALAH ARTI SEBUAH NAMA
 
Bagian ini terilhami dari diskusi tentang nama organisasi yang akan dibentuk. Sebuah nama dalam pandangan saya tentu saja sangat berarti. Saya ingin mengajak berpikir dari sudut pandang yang lain: jangan pernah memandang rendah sebuah nama. Biarlah hanya William Shakespeare yang memandang nama tanpa harga dengan komentar: apalah arti sebuah nama. Kita tak perlu beramai-ramai latah mengikuti jejaknya.
 
Pada awal penciptaannya, malaikat mengakui eksistensi Adam karena kasus sederhana: Adam mampu menamai banyak materi sehingga karakteristiknya bisa dipahami dengan mudah. Apa makna yang dapat kita petik dari sini? Nama mencerminkan apa yang diwakilinya. Bukankah jutaan dollar dan milyaran rupiah sering dihabiskan hanya untuk menemukan satu kata yang mewakili eksistensi satu produk. Nama menjadi sangat penting karenanya dan dalam proses selanjutnya nama akan ikut menentukan eksistensi sesuatu: produk, situasi bahkan orang!
 
Apa hubungannya dengan organisasi yang akan dibentuk? Ide nama dan alasan penamaan organisasi yang dilontarkan oleh Sdr. Firdaus LN dari benua dingin yang tak menyejukkan (menurut beliau) dalam perspektif saya sangat representatif untuk mewakili eksistensi organisasi yang akan segera dibentuk (insyaallah). Mari kita tinggalkan mindset: menamai sesuatu hanya dari pertimbangan biar enak di lidah (melayu)!
 
Visi pengelolaan organisasi ini bukan seperti mengelola organisasi sosial apalagi panti asuhan. Dunia berubah setiap detik dengan kecepatan cahaya. Kita harus mengantisipasi sedini mungkin. Ketika suatu ‘brand’ kita keluarkan kita harus mempersiapkan brand itu untuk masa tak terhingga tahun. Substansi memang merupakan bagian yang penting, sehingga mengapa tak sekalian kita kemas substansi itu dengan bungkus yang juga bagus?
 
Bahasa Inggris adalah bahasa era globalisasi. Kita belum punya cukup power untuk berpaling dari arus globalisasi. Kalau kita bisa membiasakan lidah melayu untuk fasih melafalkan spelling Inggris setidaknya kita telah punya andil membuka cakrawala pikir orang-orang yang kelak akan bersinggungan langsung dengan organisasi ini.  Dalam penafsiran saya, sdr. Firdaus tidak mempersiapkan organisasi ini hanya untuk setahun atau dua tahun tapi untuk eksis selama jutaan tahun, bahkan sampai kiamat dalam istilah beliau. Ide dasar ini sangat indah jika mampu kita tangkap dari perspektif profesionalisme. Salah satu wujudnya adalah persiapan kita untuk mengantisipasi perkembangan masa depan yang penuh ketidakpastian. Bukankah sebelum melihat isinya, publik akan menilai bungkusnya dulu?
 
Satu yang bisa saya ketengahkan adalah mari kita tinggalkan paradigma tradisional dalam mengelola sebuah organisasi. Kita tak harus mengesampingkan profit. Kita justru harus tegas memperhitungkan bagaimana proses ongoing organisasi ini dijalankan. Konsep countinous improvement setepat mungkin dapat dipakai dalam menjalankan organisasi ini. Dana adalah faktor terpenting selain komitmen pengelolanya. Dan organisasi ini jangan sampai menjadi seperti NGO yang menjamur akhir-akhir ini: menunggu belas kasih dari para donatur. Kita harus punya sumber dana operasional rutin yang tak pernah berhenti. Manajemen organisasi idealnya berbentuk manajemen organisasi bisnis. Tak ada volunteer yang mampu bertahan lama. Sebelum itu terjadi dan mengancam kontinuitas organisasi, kita harus berusaha untuk mengantisipasinya.
 
Penutup
Kita memang hidup dalam dunia kata-kata. Walaupun semua ini hanyalah sebuah gagasan naif, ada kata-kata bijak yang tak bisa mudah diabaikan: pikiran yang diungkapkan selalu lebih mudah untuk didiskusikan dan dicari solusinya. Dari situlah saya mulai berkata-kata meski hanya sebutir debu diantara gagasan besar rekan-rekan semua. Langkah besar tak pernah tercipta tanpa langkah-langkah kecil bukan?
 
Mari kita satukan visi untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam sejarah hidup kita. Hari ini, kita tak perlu menunggu waktu-waktu yang tak pasti. Terima kasih untuk semua debat yang menyenangkan walaupun saya hanya baru bisa membacanya. Baru berada pada titik nol. Bravo untuk gagasan-gagasan para senior yang bahkan wajahnya tak saya ingat tapi sekali lagi: nama akan selalu dikenang walaupun tak pernah kenal orangnya. Karena itu nama menjadi sepenting udara!
Posted on 07 Mar 2006 21:15:47 by Johky Cheng Last update on 07 Mar 2006 21:15:47
 
DABOSINGKEP DALAM BINGKAI PERSIAPAN PEMEKARAN KABUPATEN SELINSING » Others (Lain-lain)
Oleh: Yuliman Gamal

Penentuan Ibukota Kabupaten Selinsing (Senanyan-Lingga-Singkep) yang telah dan sedang dipersiapkan sejak tahun lalu merupakan issue menarik untuk dijadikan bahan analisis dalam bingkai pemekaran wilayah baru melalui Otonomi Daerah (Otda).  Penyatuan Visi dan Misi untuk menghadirkan sebuah kabupaten baru tersebut akan ditentukan melalui Musyawarah Besar (Mubes) yang akan berlangsung pada tanggal 9-10 Juli 2001 di Dabosingkep.
 
Menentukan layak tidaknya Singkep, Lingga, dan Senayang sebagai kabupaten baru barangkali telah diadakan penilaian khusus oleh Tim dari Kementrian Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Namun untuk menentukan dimana ibukota kabupaten yang hendak dimekarkan tersebut dari sisi Managemen Perkotaan (Urban management),  niscaya memerlukan analisis yang memadai terhadap potensi yang ada pada  calon Ibukota kabupaten tersebut, utamanya berkenaan  dengan infrastruktur yang tersedia.
Melalui pendekatan Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, and Threats), tulisan ini mencoba mengalisis “kelayakan” suatu kota menjadi pusat pemerintahan sehingga diharapkan dapat bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Pemilihan  Dabosingkep sebagai  objek analisis SWOT dipandang pas, mengingat secara real ibukota kecamatan Singkep ini “lebih siap” untuk menjadi Ibukota Kabupaten selingsing dibandingkan Daik (ibukota kecamatan Lingga) dan Senayang (kecamatan Senayang).
 
Kekuatan  (Strength)
Kehadiran perusahaan penambangan timah selama hampir 180 tahun (1812-1992)  telah meninggalkan infrastruktur cukup memadai bagi menjadikan Dabosingkep sebagai Ibukota Kabupaten Selingsing bila kelak jadi dimekarkan. Infrastruktur yang telah menjadi aset Pemda setempat dan departemen teknis seperti bandara, pelabuhan laut, jalan raya, prasarana listrik, air minum, telekomunikasi, rumah sakit, bangunan bank, perkantoran perusahaan timah, unit-unit bangunan perumahan karyawan, dan sebagainya.
Kehadiran  Bandara Dabo dapat didarati pesawat jenis Fokker-27, sedangkan dermaga laut telah mengalami renovasi dari anggaran APBN 2 tahun lalu, dengan harapan dapat disinggahi oleh kapal-kapal ukuran menengah dari Jakarta, Bangka menuju Batam atau Tanjung Pinang. Sedang fasilitas komunikasi dengan kode area 0776 sudah menyediakan kontak Saluran Langsung Jarak Jauh (SLJJ).
 
Secara administratif Dabosingkep pernah sebagai “ibukota” pembantu Kabupaten Kepulauan Riau yang mewilayahi Kecamatan Singkep, Kecamatan Lingga, dan Kecamatan Senayang sebelum itu dihapus tahun lalu. Dibanding Daik Lingga dan Senayang, fasilitas pendidikan di Dabosingkep relatif lebih baik. Dabosingkep memiliki 2 SMU negeri dan 2 SMP negeri dan beberapa lembaga edukasi menengah lainnya. Memiliki populasi relatif lebih besar dibandingkan dengan 2 ibukota kecamatan lainnya.
Meski  pernah mengalami penurunan jumlah penduduk akibat “putus hubungan” dengan PT. Timah sejak pertengahan 1992, namun sejak tahun 1996 jumlah penduduk kota ini terus bertambah. Hal ini mendukung aktivitas perkonomian Kecamatan Singkep secara keseluruhan. Memiliki kapasitas lahan untuk pertumbuhan pembangunan. Dabosingkep masih memiliki lahan yang cukup luas untuk menampung pertumbuhan pembangunan, disamping lahan yang relatif datar juga memiliki akses yang cukup luas terhadap prasarana yang tersedia.
 
Akibat dari restrukturisasi PT. Timah beberapa tahun lalu menyebabkan banyaknya pengangguran. Kondisi ini telah menyebabkan para penganggur yang telah berpengalaman itu mencari kerja ke Batam, Tanjung Pinang, Karimun, Jambi, dan sebagainya. Sebagian dari pengangguran itu masih bertahan di Dabosingkep dengan aktivitasnya sendiri. Diharapkan dengan ditetapkannya Dabosingkep sebagai ibukota kabupaten maka sebagian besar pengangguran itu dapat tertampung di berbagai kegiatan pembangunan.
Letak dan kualitas bangunan yang sudah tertata (landscape setting and quality). Meskipun dampak lingkungan yang ditimbukan dari aktivitas Penambangan Timah yang telah berlangsung sSelama hampir 2 abad cukup dahsyat, namun harus diakui bahwa penataan bangunan diPulau tersebut cukup rapi (walau masih perlu sedikit pembenahan) seperti:  letak rumah sakit, pembangkit listrik, air minum, bandara, pelabuhan laut, dan sebagainya.
Memiliki ragam etnik populasi (multi ethnic nature of city). Kota ini memiliki ragam etnis populasi seperti Melayu, Jawa, Minang, Cina, Bugis yang sudah mengalami akulturasi cukup lama.  Sebagai contoh banyak orang melayu menikah dengan orang Bugis, Jawa, Cina, dan sebagainya. Komunitas Tionghoa dan Minang dalam hal ini sangat berperan dalam perekonomian setempat.
 
Kelemahan (weakness)
Kendatipun demikian Dabosingkep masih memiliki sejumlah kelemahan, antara lain masih terbatasnya aktivitas komersial. Sejak ditinggalkan oleh PT. Timah, aktivitas komersial di kota Dabosingkep  menurun drastis. Tidak seperti Tanjung Balai Karimun atau Tanjung Pinang yang memiliki keuntungan karena kedekatan wilayah dengan Singapura. Kini jalur-jalur perdagangan dalam skala terbatas masih dilakukan antara lain dengan Tanjung Pinang dan Jambi.
 
Dinamika perekonomlian Kecataman Saingkep juga ergantung dengan kehadiran daerah lain, seperti Tanjung Pinang sebagai ibukota kabupaten untuk urusan-urusan formal dan Jambi dalam hal memasok kebutuhan pokok masyarakat. Kurangnya keterlibatan masyarakat dalam kepemilikan  terhadap suatu aset sangat terbatas khususnya terhadap unit-unit bangunan dan aset peninggalan PT. Timah. Ini akan menyulitkan dalam hal pembebasan lahan,  sementara statusnya belum jelas.
Sebagaimana yang terjadi kini, urusan pemerintahan, pendidikan dan urusan formal lainnya di Dabosingkep harus melalui Tanjung Pinang sebagai ibukota Kabupaten. Ini mengakibatkan biaya tinggi (high cost) bagi masyarakat berpendapatan rendah. Kapal superjet yang melayani jalur Dabosingkep-Tanjung Pinang mengenakan tarif Rp. 35.000,- sekali jalan. Dengan demikian ini sangat merugikan bagi pegawai negeri dan buruh sektor informal yang berpendapatan rendah bila harus berurusan ke Tanjung Pinang. Selain itu harga barang kebutuhan pokok (sembako) dan biaya jasa/ pelayanan disini relatif lebih mahal.
 
Selain sarana angkutan laut yang terbatas, Dabosingkep juga kekurangan sarana transportasi darat seperti angkutan umum, bus dan taksi.  Kurangnya pengelolaan objek wisata (under developed tourism). Dabosingkep tidak seberuntung Tanjung Balai Karimun, yang walaupun kurang objek wisata namun memiliki karakteristik seperti Singapur tahun 1970-an, sehigga turis dari negeri jiran tersebut tidak segan untuk membelanjakan uangnya disana. Sebaliknya Dabosingkep, selain relatif lebih jauh dari  Singapura juga tidak memiliki objek wisata yang terkelola dengan baik. Sedangkan sektor pariwisata ini sangat berperan dalam memberikan value added dan kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bagi perekonomian wilayah Kepulauan Riau, Batam dan Karimun secara keseluruhan.
 
Peluang-peluang (Opportunies)
Tanjung Pinang termasuk dalam kawasan industri baik industri pengolahan maupun industri pariwisata. Wilayah ini juga memiliki akses yang baik dengan Singapura, Batam, dan Karimun. Adanya koridor antara Dabosingkep dan Tanjung Pinang memberikan peluang yang luas bagi pertumbuhan ekonomi Dabosingkep dimasa mendatang. Selain Tanjung Pinang, Dabosingkep juga memiliki koridor dengan Jambi yang merupakan satu-satunya ibukota propinsi di Pulau Sumatera yang paling dekat dengan Dabosingkep saat ini.
 
Peluang perdagangan dan perekonomian yang lebih luas akan tercipta bila prasarana yang ada dapat digunakan seoptimal mungkin seperti penggunaan bandara Dabo dan pelabuhan laut yang ada. Seperti yang dirilis dalam Riau Pos tanggal 18 Februari 2001 dengan tajuk “Riau Airlines Menerobos Keterisolasian Daerah”. Dengan adanya rencana Pemda Propinsi Riau untuk memanfaatkan bandara yang ada di seluruh Riau termasuk Bandara Dabo, maka melalui jalur penerbangan yang dilewati Riau Airlines akan menciptakan multiplier effect bagi perekonomian setempat dari kemudahan investasi. Jalur penerbangan ini akan menciptakan koridor baru dengan Batam (terakhir koridor itu terputus tahun 1996/1997 oleh jalur penerbangan pesawat jenis SMAC dari Jambi-Dabosingkep-Batam) dalam rangka ikut berkiprah dalam kancah perekonomian global.
 
Selain Jambi, Tanjung Pinang dan Batam, kota ini memiliki hubungan yang relatif tidak jauh dengan “kota-kota utama” seperti Kuala Tungkal (ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Barat-Jambi), Muara Sabak (ibukota Tanjung Jabung Timur-Jambi) yang memiliki pelabuhan bebas, dan Tanjung Balai Karimun (Kabupaten Karimun) dan Pangkal Pinang (ibukota Propinsi Bangka-Belitung). Kondisi ini menciptakan peluang ekonomi dalam skala yang lebih luas. Memiliki sumberdaya alam yang mendukung (natural resources). Dalam berita Harian Kompas tanggal 24 Juli 2000 dikatakan bahwa Pulau Singkep Masih menyimpan 200 ribu ton timah. Sebuah perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri akan menghidupkan kembali aktivitas pertambangan yang sempat terhenti sejak tahun 1992. Kegiatan penambangan itu disamping memberikan kontribusi bagi perekonomian juga dapat menampung tenaga pengangguran akibat restrukturisasi PT. Timah. Dengan ramainya aktivitas penambangan ini akan berdampak pada peningkatan perekonomian kota Dabosingkep dengan prasarana yang dapat diakses oleh perusahaan penambangan. Sumberdaya alam lain yang dimiliki antara lain di sektor perikanan. Itu terlihat dari banyaknya pendirian rumah penangkapan ikan teri (kelong) di sepanjang perairan pulau Singkep.
 
Ancaman (threats)
Diperkirakan terdapat  sekitar 45.000 ha lahan di Pulau Singkep telah   dimanfaatkan sebagai basis kegiatan penambangan timah selama hampir seratus delapan puluh tahun. Pulau itu kini dipenuhi dengan danau-danau bekas galian Timah.  Kondisi ini semakin diperburuk  dengan beroperasinya kegiatan penambangan pasir. Penambangan pasir dan lepas pantai (offshore mining) dan penebangan hutan (deforestation) serta penggurunan (disertification) mengakibatkan semakin terbatasnya lahan-lahan produkktif di Pulau Singkep.
 
Ada kecenderungan di kota Dabosingkep saat ini dimana masyarakat membuat bangunan baru tanpa mengindah ketentuan yang berlaku serta tidak memperhatikan lingkungan. Pada bangunan bekas peninggalan PT. Timah masih dapat dikatakan tertata cukup rapi, namun melihat kecenderungan dimana saat ini pembangunan bangunan baru sering tidak sesuai dengan tata ruang dan keindahan kota. Sebagai contoh sederhana adalah pembuatan bangunan sarang burung walet di tengah-tengah kota tanpa perduli dengan lingkungan sekitar.
 
Restrukturisasi PT. Timah pada  awal 1990-an yang mem-PHK kan ribuan karyawan telah menyebabkan “luka” yang cukup dalam bagi masyarakat Dabosingkep. “Luka” ini berdampak pada berbagai segi kehidupan masyarakat dan menimbulkan semacam trauma bagi masyarakat khususnya mantan karyawan PT. Timah. Dapat dikatakan dahulunya masyarakat Dabosingkep identik dengan PT. Timah. Dengan demikian ketika PT. Timah melakukan restrukturisasi maka dampaknya identik dengan kondisi masyarakat secara keseluruhan.  Trauma yang dalam ini akan berdampak pada aktivitas mereka keseharian, apalagi bila aktivitas itu dikaitkan dengan rencana pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau.
 
Penutup
Membandingkan antara Dabosingkep dengan Daik Lingga dan Senayang, otomatis kondisi yang memenuhi “kriteria” diatas adalah Dabosingkep. Penulis berusaha melihat itu seobyektif mungkin dengan berdasarkan pada ketersediaan infrastruktur sebagai persyaratan utama. Hal ini dimaksudkan agar dalam pembangunan selanjutnya,  setelah kabupaten pemekaran terbentuk, biaya yang dikeluarkan untuk infrastruktur dapat dialihkan untuk meningkatan perekonomian rakyat yang terpuruk saat ini.
 
Ada keinginan untuk membentuk Daik Lingga sebagai ibukota kabupaten mengingat secara historis Daik pernah menjadi pusat kerajaan Melayu, dan secara geografis saat ini aksesnya dapat lebih merata dari Dabosingkep dan Senayang dan pulau-pulau kecil lainnya. Namun dengan kenyataan yang ada, tidak ada pilihan lain kecuali mengambil pilihan yang paling menguntungkan.           Bukan tidak mungkin pada masa mendatang kota Daik Lingga dapat menjadi pusat Kebudayaan Melayu dan pengembangan sektor Pertanian.  Karena aksesnya yang relatif dekat dengan kawasan Barelang (Batam, Rempang, Galang), maka di Senayang dapat didirikan pabrik industri pengolahan sektor perikanan.
 
Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat bagi para pengambil kebijakan di Pemda setempat dalam rangka mendukung strategic planning yang dirancang bagi pemekaran Kabupaten Kepulauan Riau menjadi Kabupaten Kepulauan Riau dan Kabupaten Selingsing.
 
Ir. Yuliman Gamal adalah Alumnus IPB dan kini sedang mengikuti Program Magister Urban management  di Centre for Developing C University of Canberra, Australia

Posted on 07 Mar 2006 21:07:23 by Johky Cheng Last update on 07 Mar 2006 21:07:23
 
APE JUDOL??? » Poem (Pantun)
Oleh: YG-Jum Azhar

Ditengah laot melempa Saoh
Dari Daek kite bekayoh
Baju basah badan bepeloh
Ngape? Jaooh...

Dari Bakong ke Gunong Muncong
Bawak bekal laok paok
Di tengah jalan jadi bingong
Sesat aok?

Buah kuini buah durian
Burung hinggap suare bekicau
Pucuk ubi sambal belacan
Eh ngape jadi ngacau?

Sepucuk Jambi Sembilan Lurah
Tanjung Jabung aernye payau
Ikak semue jangan marah
Ape pasal? Panton ni kacau beliau.

Badon kecik pegi mantri
Sudah waktunye akan disunat
Panton ini sampai disini
Wai ngape? Penat...!

Posted on 06 Mar 2006 12:46:26 by rena wahr Last update on 06 Mar 2006 12:47:43
 
DAEK KU SAYANG DAEK KU.... » Poem (Pantun)
Oleh: Penikuswati Imany Kasidi

Bile mentari mulai tenggelam
Kelelawapon mulai terebang
Menghitam dibawah awan yang kelam
Mencari makan ke seberang

Bile Mantang datang betandang
Kerang dan range untok di dagang
Beras dan baju bekas jadi bayaran
Bekal keluarge di pelayaran

Ae pasang pegi besampan
Ke ulu daek tempat tujuan
Sakeng asek bemandi mande
Tak sada lupe hari dah senje

Kojoh datang di malam hari
Kamipon kelua menari nari
Emak ngamon kami tak peduli
Besok bangon kojoh dah pegi

Musem derian kami bepondok
Tok ucu bepondok di bawah pokok
Derian gugo dimalam suntok
Baunye lempok ilanglah ngantok

Ke kedai Cungi nyuri belacan
Pepure mbeli bumbu masakan
Bangge rasenye bukan kepalang
Kesian  naseb si Cungi yang malang

Posted on 06 Mar 2006 12:40:50 by rena wahr Last update on 06 Mar 2006 12:40:50
 
POSTING DONK » Others (Lain-lain)
Posting Donk

Buah Manggis Buah Kedondong, Anak Dabok Posting Donk...

Benarnye banyak yang nak posting yang tengengel tapi malu pulak dengan posting dari Julie Saidi... Hahah...

Okelah Budak Dabo posting aje sesuka hati. Anggap aje lagi bebual ^_^

Posted on 01 Mar 2006 23:18:44 by Johky Cheng Last update on 01 Mar 2006 23:22:56
 
STRATEGI PEMBANGUNAN KAB. LINGGA » Others (Lain-lain)

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keberhasilan pembangunan didasari oleh perencanaan yang baik dan perencanaan yang baik harus didukung pula oleh berbagai kriteria, antara lain sistematis, seksama, menyeluruh, terpadu dan sinerjik. Sejalan dengan bergesernya paradigma pembangunan daerah di mana pembangunan tidak hanya menumbuhkan komitmen terhadap institusi, tetapi juga meningkatkan sinerji dan kinerja semua komponen pembangunan. Apalagi pada wilayah-wilayah yang baru dimekarkan dan merupakan pemerintahan daerah yang baru, termasuk Kabupaten Lingga.
Kabupaten Lingga merupakan kawasan eks kewedanan Lingga yang disahkan menjadi kabupaten baru pada tanggal 20 Nopember 2003 oleh DPR RI dan diresmikan oleh Presiden melalui Menteri Dalam Negeri RI tanggal 7 Januari 2004 dengan Undang-Undang Nomor 31 tahun 2003. Kabupaten yang terdiri dari 3 pulau besar (Singkep, Lingga dan Senayang) adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau.
Beranjak dari sejarah bahwa wilayah Kabupaten Lingga dulunya merupakan bagian wilayah kerajaan Riau-Lingga dan pernah menjadi pusat pemerintahan yang telah membawa kemakmuran rakyat sejak tahun 1670-an. Pada waktu Raja Haji menjadi Yamtuan Muda, kemakmuran Riau Lingga bertambah besar, keadaan ini terlihat dari banyaknya pedagang asing tinggal di Bandar Riau.
Pentingnya peran kerajaan Riau Lingga seperti yang dikisahkan dalam Tuhfat al-Nafis, menunjukkan bahwa pusat tentang kemakmuran negeri ini terutama pada masa Yang Dipertuan Muda Raja Ali berkuasa, telah mengalami kejayaan yang pesat. Di dalam naskah tersebut disebutkan bahwa “Riau tengah ramai benar, segala dagang di dalam dunia ini masuk ke Riau”, misalnya emas Indragiri, kain India dan berbagai barang dagangan lainnya.
Beberapa perioda sebelum pengangkatan Yang Dipertuan Muda Raja Ali, kerajaan Riau-Lingga juga telah mencapai kemajuan yang pesat. Kerajaan ini pernah menjadi pusat perekonomian “Syahdan demikianlah di dalam beberapa tahun bersuka-sukaan karena negeri aman lagi makmur dan segala makan-makanan pun murah dan segala orang dagang pun banyaklah dapat untung kerana terlalu ramai orang-orangnya”. Keadaan kejayaan ini juga dijelaskan Matheson dalam buku Tradisi Johor Riau, bahwa para pedagang asing pada waktu itu banyak tinggal di Bandar Riau. Orang Cina, Bugis dan Arab berkumpul dan berniaga di sini.
Wilayah ini sebenarnya telah melalui kemakmuran dalam berbagai bidang, tetapi kemudian runtuh yang disebabkan oleh ancaman dari dalam dan dari luar, salah urus, deklivitas agama dan budaya yang berujung kepada perbedaan visi dan perencanaan dan adaptasi zaman yang menyebabkan perang saudara dan peperangan. Ancaman dari luar berasal dari Portugis, Inggris dan Belanda, sedangkan ancaman dari dalam negeri peperangan kerajaan serumpun, perang Kedah, perang saudara di Siak, peperangan di Siantan, permusuhan Melayu-Bugis, perseteruan dengan Minangkabau hingga Patani, penyerangan oleh Raja Kecil dari Siak, perbalahan diantara Perak dan Selangor, peperangan dengan Indragiri dan peperangan dengan Retih.
Pada awal zaman kemerdekaan menjelang tahun 1945, pemerintah Hindia Belanda menyatukan wilayah Riau Lingga dengan Indragiri dan menjadikannya satu Keresidenan yang terbagi ke dalam dua Afdelling, yaitu Afdelling Tanjungpinang yang meliputi Kepulauan Riau Lingga, Indragiri dan Kateman yang berkedudukan di Tanjungpinang. Sedangkan wilayah Kabupaten Lingga dibentuk Kewedanan Kepulauan Lingga (pulau Lingga, Singkep dan senayang) yang pusat pemerintahannya di pulau Lingga. Afdelling Indragiri yang berkedudukan di Rengat yang kemudian dijadikan Residen Riau.
Pulau Singkep sejak tahun 1812 hingga 1992, selama 180 tahun telah pula mengalami kejayaan ekonomi dengan pengelolaan sumberdaya alamnya, yaitu Timah oleh PT. Timah Persero. Sedangkan pulau Senayang hingga kini tetap terkenal dengan “pulau ikan”, lantaran penghasilan ikannya memberikan kejayaan bagi masyarakat pulau tersebut.
Sejarah di atas menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Lingga (eks Kewedanan Kepulauan Lingga) pernah menjadi pusat pemerintahan, kejayaan ekonomi dan pusat pengembangan pendidikan/budaya. Oleh karenanya, Kabupaten Lingga sudah menjadi suatu keharusan bahwa kawasan ini pada masa kini dan mendatang menempatkan dirinya menjadi kawasan utama yang mampu mensejahterakan dan memakmurkan masyarakatnya pada tahun 2024.
Sudah menjadi tuntutan dan kehendak masyarakat Kepulauan Lingga bahwa pusat perkembangan ekonomi kelautan (maritim) berada di wilayahnya. Ini penting, karena prinsip dasar dari otonomi daerah adalah upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Otonomi daerah adalah koreksi atas kebijakan pembangunan yang selama ini telah berlangsung. Dan masyarakat Kabupaten Lingga sudah merasakan kelemahan strategi tersebut.

B. KONDISI KABUPATEN LINGGA MASA KINI

Kabupaten Lingga (wilayah eks kewedanan Lingga) memiliki luas 41.080,02 Km2 yang terdiri dari daratan 2.117.272 Km2 dan lautan 38.992,00 Km2. Wilayah ini terdiri dari 377 pulau di mana pulau yang sudah dihuni sebanyak 95 buah dan belum dihuni 282 buah. Wilayah Kabupaten Lingga memiliki geografi yang sangat strategis. Secara garis besar dapat dilihat :
1. Kabupaten Lingga terletak pada lintas perdagangan yang sangat ramai antara Jakarta dengan Singapura. Terbuka ke arah kawasan pasifik, yang menjadi kawasan perdagangan dan ekonomi terpenting milenium III ini.
2. Kawasan ini juga berada pada pusaran tiga kawasan ekonomi regional yang sedang tumbuh, yaitu Batam, Bangka Belitung dan Jambi.
3. Mempunyai wilayah yang kaya akan laut, lebih kurang 38 ribu kilometer persegi, dengan kandungan sumber daya alam laut yang tinggi. Yakni ikan, karang, pantai, pasir dan lainnya.
4. Mempunyai potensi sumber daya alam pertambangan, timah, pasir kuarsa, kaolin.
5. Mempunyai potensi sumber daya perkebunan dan perikanan yang prospektif,
6. Pulau Lingga merupakan pulau “Bunda Tanah Melayu” yang merupakan aset pariwisata budaya Melayu.
Setakad ini administrasi pemerintahan Kabupaten Lingga terdapat 5 kecamatan yang terdiri dari Kecamatan Singkep, Singkep Barat, Lingga, Lingga Utara dan Senayang. Jumlah desa sebanyak 43 desa dan 4 kelurahan.
Jumlah penduduk Kabupaten Lingga sebanyak 77.311 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 37 Km2. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Pulau Singkep, yaitu kecamatan Singkep 23.100 jiwa dan terendah di kecamatan Senayang sebanyak 18.873 jiwa. Kendati penduduk terkonsentrasi di pulau Singkep, perkembangan ekonomi terpolarisasi terhadap pulau Lingga dan Senayang serta pulau-pulau di sekitarnya.
Realisasi pendapatan Kabupaten Lingga (4 Kecamatan data dari Kabupaten Kepri) tahun 2001 mencapai 1 miliar lebih, di mana yang terbesar pada pajak daerah sebesar Rp. 891.923.151. Potensi yang cukup besar terdapat pada sektor perikanan di mana produksi sebesar 15.973,30 ton dengan nilai Rp. 100.283.982. Jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) sebanyak 6.180 RTP dengan 12.854 unit alat tangkap dan unit produksi.
Dengan kondisi perekonomian yang cukup potensi tersebut, masih muncul persoalan yang dapat menjadi kerawanan sosial di daerah, yaitu kesenjangan pembangunan antarwilayah dan antarpulau. Pulau Singkep dan Senayang dengan perekonomian yang cukup potensi dengan sumber-sumber ekonominya (perikanan, industri dan perdagangan) diperkirakan akan berkembang pesat dibandingkan dengan pulau Lingga. Sehingga, perlu suatu strategi pemerataan pembangunan yang mampu merangkai tiga pulau besar ini menjadi suatu kawasan terpadu.


II. ARAH DAN STRATEGI PENGEMBANGAN

A. ARAH PENGEMBANGAN
Sebagai Kabupaten baru, Kabupaten Lingga mempunyai banyak kelemahan, terutama ketersediaan Sumber Daya Manusia yang handal untuk memanfaatkan potensi alam. Namun persoalan SDM adalah masalah kemauan politik, masalah pelatihan, masalah yang dapat diproyeksi dan direncanakan, sepanjang terdapat kemauan dan visi yang jelas.
Kelemahan geografis karena letaknya terpencar, dan kawasan daratan yang lebih kurang hanya 2 ribu kilometer persegi, justru akan menjadi kekuatan lain, kalau potensi ini dikembangkan dengan visi yang jelas. Yaitu potensi maritim, potensi perairan, yang merupakan keunggulan Indonesia sejak beribu tahun lalu. Yang jadi masalah adalah potensi kelautan dan perairan (maritim) itu belum dapat dikembangkan karena sarana dan prasarana dasarnya masih jauh dari memadai. Misalnya, belum ada pelabuhan laut yang benar-benar baik dan mampu didaya- gunakan dalam kondisi dan situasi cuaca yang bagaimanapun. Belum semua pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini mempunyai pelabuhan laut yang memadai. Dan masih minimnya armada pelayaran yang tangguh, cepat dan dengan teknologi yang lebih maju.
Untuk itu, sesuai dengan keadaan geografis dan potensi sumberdaya alamnya pembangunan kawasan Kabupaten Lingga harus dibagi dalam tiga wilayah pembangunan yang saling memiliki daya dukung dan terpadu, yaitu:

1. Wilayah Pembangunan I meliputi pulau Singkep dan sekitarnya
Sejalan dengan visi pembangunan Riau yang ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu pusat perkembangan ekonomi regional (Asia Tenggara), yang juga memanfaatkan potensi geografisnya yang strategis, maka apa yang sudah ditunjukkan Singapura dengan menjadi pusat industri dan jasa maritim, merupakan bandingan yang paling baik. Kondisi yang sudah dikembangkan oleh Singapura, dan jika dijalin dengan peran Tanjungpriok sebagai bandar laut utama Indonesia, maka Kabupaten Lingga, akan dapat mengambil manfaat dari keberadaannya di pusat pertumbuhan kedua kawasan maritim itu.
Semisal dengan teknologi yang sederhana, Singkep sudah menjadi pusat industri kapal-kapal kayu yang penting di Riau, menggantikan peran Bagan Siapi-api. Jika ini dapat dikembangkan dengan konsep yang lebih modern dan terencana, bukan mustahil, pulau Singkep akan menjadi pusat industri perkapalan nasional, baik dalam memproduksi kapal, maupun kegiatan lain, seperti docking, shipyard, dan lain-lain.
Oleh karena itu, pulau Singkep dengan sarana dan prasarana infrastrukturnya yang cukup menunjang (eks aset PT Timah Persero), harus diarahkan sebagai pusat kawasan industri dan perdagangan di Kabupaten Lingga.

2. Wilayah Pembangunan II meliputi pulau Lingga dan sekitarnya
Potensi kelautan lainnya yang juga ke depan akan sangat baik, adalah wisata bahari, apabila benar-benar dikembangkan dengan konsep yang baik dan terarah. Selain itu, aset cagar budaya Melayu di pulau Lingga yang merupakan peninggalan bersejarah kerajaan Riau-Lingga pada Abad 19 yang hingga setakad ini belum dioptimalkan sebagai wisata budaya.
Belajar dari bagaimana Batam mengembangkan konsep wisata baharinya, dengan sejumlah resort wisata dan sejumlah marina. Begitu juga dengan Johor dan Melaka yang mengembangkan wisata budaya Melayu. Maka Kabupaten Lingga, khususnya pulau Lingga dengan peninggalan budaya Melayu tersebut, akan menjadi salah satu pilihan lain industri wisata Asia Tenggara untuk didatangi terutama wisata budaya Melayu dan bahari, apabila potensi cagar budaya Melayu dan bahari dikembangkan secara profesional dan terarah.
Untuk itu, arah pengembangan pulau Lingga harus lebih difokuskan sebagai pusat refrensi budaya Melayu dunia, kawasan pengembangan wisata budaya Melayu dan bahari serta pusat pemerintahan yang berkonsep Melayu, sehingga pulau ini harus tetap menjadi “Pulau Bunda Tanah Melayu”

3. Wilayah Pembangunan III meliputi pulau Senayang dan sekitarnya
Kekuatan utama yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat pulau (pesisir), adalah sektor perikanan dengan segala aspeknya. Sudah puluhan tahun dan hingga kini, kawasan Kabupaten Lingga, khususnya kecamatan Senayang, menjadi hinterland dari sumber kebutuhan ikan dan hasil laut Singapura dan Malaysia. Dan sekarang juga menjadi sumber untuk kebutuhan Kota Batam dan pulau Bintan. Pada tahun 2.000 produksi perikanan kecamatan Senayang sebanyak 7.669,3 ton yang didominasi rumah tangga perikanan (RTP) sebanyak 3.197 RTP.
Selain itu, tumbuh dan berkembangnya terumbu karang yang baik di kawasan pantai pulau ini, memberikan potensi yang prospektif untuk dikembangkannya wisata bahari, seperti wisata selam dan aquawisata.
Oleh karena itu, pengembangan budidaya perikanan modern dan perikanan samudera, akan memberi kesempatan kawasan ini memberi kontribusinya yang besar untuk mensejahterakan rakyat. Untuk itu, pulau Senayang harus di jadikan sebagai pusat pengembangan perikanan modern dan pelabuhan ikan bertaraf internasional.
Dengan arah pengembangan yang strategis terhadap geografi, potensi alam dan wilayah, serta berberapa prediksi ke depan, maka memang cukup ideal Kabupaten Lingga menjadi pusat kebudayaan Melayu dan kawasan industri maritim terkemuka di laut Cina Selatan.


B. STRATEGI PENGEMBANGAN

1. Visi Kabupaten Lingga
Pembangunan di wilayah Propinsi Riau dan Kepulauan Riau pada awal abad 21 menuju milenium III dipengaruhi oleh perkembangan dunia global yang berorientasi kepada pasar bebas melalui AFTA dan APEC, industrialisasi dengan teknologi tinggi (high tech) dan dinamika perekonomian dunia. Begitu juga dengan adanya kerjasama regional IMS-GT dan IMT-GT jelas mempengaruhi perkembangan Riau Daratan dan Riau Kepulauan, akibat dari pesatnya kemajuan negeri jiran (Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam). Apalagi wilayah Kepulauan Riau merupakan hinterland dari jalur perdagangan Singapura, Malaysia dan Batam.
Selain itu, perkembangan dan pembangunan Kepulauan Riau khususnya dipengaruhi oleh aspirasi masyarakat, penerapan kebijaksanaan nasional, regional Propinsi Kepulauan Riau dan perkembangan ekonomi nasional maupun regional (Kota Batam, Propinsi Bangka Belitung dan Propinsi Jambi).
Oleh karena itu, Kabupaten Lingga yang merupakan bagian dari wilayah Kepulauan Riau yang terletak pada geografis yang strategis bagi perdagangan internasional dan regional, dituntut lebih proaktif, dinamis, kreatif dan inovatif untuk menghadapi perkembangan dan perubahan yang terjadi di masa depan.
Untuk itu, administratif pemerintahan Kabupaten Lingga harus diarahkan kepada administrasi paradigma baru. Dengan demikian diperlukan transformasi kepemimpinan, kesadaran akan pentingnya artinya mutu (quality), efisiensi dan pelayan (service) yang baik dari semua implementasi pembangunan. Pendayagunaan sumberdaya yang dimiliki harus dilakukan secara efisien dan efektif, baik pada sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya dengan tujuan mensejahterakan dan memakmurkan masyarakat.
Sehubungan dengan itu, pembangunan di Kabupaten Lingga haruslah benar-benar untuk memakmurkan masyarakat dengan penyebaran program-program pembangunan yang terarah dan terencana serta berpangkal pada isu utama, yaitu pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan kerjasama regional dan internasional. Dengan demikian Kabupaten Lingga mampu menjadi kabupaten terkemuka dalam pengembangan industri maritim dan pelestarian kebudayaan Melayu di kawasan laut Cina Selatan pada tahun 2024.
Bertolak dari kondisi di atas maka Visi Kabupaten Lingga adalah: menjadi pusat kebudayaan Melayu dan kawasan industri maritim terkemuka di Laut Cina Selatan tahun 2024

2. Misi Kabupaten Lingga
Misi Kabupaten Lingga adalah:
1. Meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat melalui peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan peningkatan industri maritim berbasis ekonomi kerakyatan
2. Meningkatkan pemerataan pembangunan antarwilayah/pulau berbasis potensi dan letak strategis wilayah/pulau.
3. Mengembangkan budaya Melayu dalam setiap implementasi pembangunan dengan mengedepankan Melayu sebagai “pucuk jala pumpunan ikan” atau pusat rujukan yang niscaya.

3. Strategi Pembangunan
Strategi pengembangan daerah yang akan dilaksanakan merupakan upaya untuk menyelsaikan semua masalah pokok yang ada dan akan dihadapi Kabupaten Lingga kini dan masa datang. Oleh karenanya, mekanisme dan tahapan pelaksanaannya harus tertuju pada visi dan misi kabupaten, sehingga program pembangunan sebagai implementasinya harus terintegrasi secara terencana dan terarah.
Strategi yang digunakan untuk merealisasikan visi dan menjalankan misi kabupaten diarahkan kepada:
1. Peningkatan Sumber Daya Manusia dan kinerja
2. Perencanaan pembangunan yang terarah dan terintegrasi
3. Pemerataan pembangunan antarwilayah/pulau
4. Peningkatan distribusi dan jasa antarwilayah/pulau
5. Kebijakan kependudukan yang terarah

Sebagai dasar/pokok persiapan dalam melaksanakan strategi pem-bangunan, pada tahap awal secara mendasar yang dipandang perlu segera dilakukan:
1. Analisis kebutuhan sumberdaya manusia (SDM) Kabupaten Lingga
2. Menyelamatkan sumberdaya alam dan aset yang ada
3. Membentuk Pusat Unggulan (Center of excellent) berbasis sumberdaya maritim sebagai kompetensi utama (core competency) Kabupaten Lingga untuk bersaing dengan wilayah-wilayah sekitarnya.
4. Perlu segera dibuat cetak biru (blue print) pembangunan yang komprehensif sebagai kawasan industri maritim

III. PRIORITAS PEMBANGUNAN

Sebagai arah pengembangan yang diimplementasi pada bidang-bidang pembangunan perlu adanya keutamaan prioritas. Hal ini perlu karena Kabupaten Lingga merupakan wilayah administrasi otonomi baru. Oleh karena itu, beberapa hal yang berkaitan dengan bidang-bidang dasar pembangunan yang penting (utama) untuk diketahui dan didukung secara positif dalam pengembangan kawasan Kabupaten Lingga untuk mencapai visi ke depan, sebagai berikut:

1. Bidang Infrastruktur
· Terjadi ketimpangan pembangunan infrastruktur antara 2 pulau besar (Lingga dan Senayang) dan sekitarnya dengan pulau Singkep. Saat ini sarana dan prasarana infrastruktur lebih banyak berada di pulau Singkep. Untuk itu, perlu perencanaan yang terarah terhadap pengembangan infrastruktur sesuai dengan masing-masing wilayah pengembangan.
· Perlu pengembangan infrastruktur yang efisien dan tepat guna bagi kebutuhan masyarakat dan pelaku bisnis. Terutama sarana dan prasarana transportasi seperti jalan, pelabuhan dan bandar udara sebagai aksesibilitas Kabupaten Lingga dengan daerah lainnya.
· Perencanaan pembangunan infrastruktur Kabupaten Lingga harus berpedoman pada RTRW dan RTRK yang dibuat dengan perencanaan yang terarah. Kemudian perlunya konsistensi implementasi dari RTRW dan RTRK yang disusun. Oleh karena itu, perlu sesegera mungkin penyempurnaan RTRW dan RTRK.
· Perlunya pengaturan jenis sarana transportasi darat yang masuk ke 3 pulau besar, berupa ukuran dan tonase kendaraan roda empat atau lebih yang disepadankan dengan kondisi jalan yang ada dan pengembangannya.
· Peningkatan kuantitas armada laut (swasta/BUMD) yang mampu menghubungkan antarwilayah/pulau terutama dalam pengembangan transportasi rakyat, untuk meningkatkan aksesibilitas ekonomi masyarakat.
· Perlu segera dibangun pusat pembangkit listrik (power suply) untuk mendukung pembangunan di seluruh kawasan Kabupaten Lingga.

2. Bidang Teknologi Sistem informasi
· Letak geografis Kabupaten Lingga yang terdiri dari pulau-pulau menjadikan usaha pengembangan telekomunikasi sangat strategis dan mendesak. Tujuannya agar mampu menjadi lokomotif penarik gerbong kemajuan pembangunan Kabupaten Lingga, terutama pengembangan aktivitas ekonomi daerah.
· Perlu sesegera mungkin dibangun sarana dan prasarana telekomunikasi untuk membuka aksesibilitas dan karena Kabupaten Lingga merupakan kawasan kepulauan sehingga mampu menjadi urat nadi percepatan pertumbuhan ekonomi dalam menumbuhkembangkan komunikasi ekonomi, dan sosial budaya masyarakat.

3. Bidang Pendidikan
· Perlu perhatian terhadap pengembangan sarana dan prasarana pendidikan formal dan kurikulum lokal yang sesuai dengan pasar kerja terutama di tingkat menengah, khususnya bidang kebahasaan dan teknologi.
· Perlu dikembangkan Sekolah Kejuruan yang sesuai dengan potensi daerah dan kebutuhan pasar tenaga kerja (Bintan, Batam, Jambi, Singapura dan Malaysia), seperti SMK Teknologi (otomotif, mesin, pertambangan), SMK Perikanan, SMK Pariwisata, SMK perekonomian, SMK kesehatan/medis (farmasi dan analis kimia)
· Pengembangan pendidikan terminal di tingkat perguruan tinggi berbasis teknologi, seperti Politeknik Maritim, Akademi Bahasa Asing, Akademi Pariwisata, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Komputer.
· Perlu dikembangkan pendidikan informal yang berbasis teknologi, seperti Balai Latihan Kerja (BLK) Teknologi Maritim, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di setiap wilayah pengembangan.

4. Bidang Perikanan
· Peningkatan kualitas SDM nelayan dengan mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) Perikanan di Senayang
· Pengembangan pasar ikan berskala internasional (terminal aquabisnis) yang secara koneksi mampu memberikan informasi tentang pasar yang bermanfaat bagi masyarakat nelayan dan konsumen.
· Pengembangan teknologi budidaya ikan laut dan pengembangan teknologi tangkap.

5. Bidang Pertanian dan Kehutanan
· Perlu dilakukan pemanfaatan lahan eks tambang timah dan tambang pasir (terutama di pulau Singkep) untuk pengembangan Pertanian Terpadu terutama pengembangan tanaman hortikultura (sayuran), tanaman pangan, perkebunan (karet, gambir, lada/sahang dan coklat), peternakan dan perikanan darat dalam konsep Agro-aquawisata.
· Perlu penggalian komoditas unggulan daerah terutama di pulau Singkep dan Lingga yang komersial, sebagai daerah penyokong kebutuhan daerah sekitarnya (Bintan, Batam, Jambi, Malaysia dan Singapura).
· Perlu adanya usaha pelestarian hutan dan rehabilitasi lahan sebagai penyangga sumber air pulau, yaitu gunung Muncung dan gunung Lanjut di pulau Singkep, Gunung Daik di pulau Lingga.

6. Bidang Ekonomi
· Pengembangan ekonomi kerakyatan masyarakat pesisir, perlu dilakukan dengan pendekatan bottom up melalui strategi pemberdayaan:
a. Penyelamatan (Rescue) dan Pemulihan (recovery) yang merupakan strategi jangka pendek, terutama dengan melakukan diversifikasi keahlian nelayan, seperti usaha budidaya ikan laut, peternakan unggas, industri rumah tangga yang memanfaatkan potensi Sumberdaya Alam pantai/laut. Pengenalan struktur permodalan, perbankan dan manajerial. Pengembangan kemitraan dan wadah ekonomi rakyat melalui kerjasama antarpemerintah daerah dengan para nelayan
b. Jangka Panjang, yaitu tahap rekonstruksi dan keberlanjutan dengan strategi pemberdayaan nelayan berdasarkan analisa SWOT.
c. Untuk pengembangan masyarakat, perlu adanya pemihakan yang jelas kepada nelayan, membangun sinergisitas positif dengan sektor lain, membangun koalisi antara nelayan dengan komponen pembangunan di Kabupaten Lingga (Pemerintah, Pengusaha, Tokoh Masyarakat)
d. Perlu sesegera mungkin dilakukan pembangunan infrastruktur ekonomi kerakyatan, terutama aksesibilitas permodalan oleh masyarakat, pemasaran hasil, badan penjamin modal masyarakat dan badan pembinaan bisnis masyarakat (konsultan) yang berorientasi pada pengembangan Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK).

7. Bidang Pertanahan dan Pemukiman
· Perlu segera adanya pengaturan tentang peruntukan lahan untuk perumahan dan pemukiman pada kawasan layak huni dan kawasan industri, karena sangat terkait dengan banyak aspek baik sosial, ekonomi dan budaya. Terutama untuk :
1. Menyiapkan pemukiman beserta kebutuhan akan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang baik/layak dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat tempatan agar tidak termarjinalkan/terpinggirkan.
2. Menjamin ketersediaan lahan yang cukup untuk pengembangan industri dan sektor lainnya.

8. Bidang Pengembangan Budaya Melayu
· Perlu sesegera mungkin menyusun “masterplan” pariwisata kebudayaan Melayu dan bahari di pulau Lingga dan sekitarnya.
· Perlu pengaturan cagar budaya Melayu yang ada di pulau Lingga.
· Perlu RTRWK pulau Lingga dan sekitarnya yang berorientasi pada konsep pengembangan budaya Melayu dan konsep pembangunan secara berkelanjutan (Sustainable Development) yang menjunjung tinggi etika konservasi.

IV. IMPLIKASI

Paradigma baru yang berlaku terhadap pelaksanaan pembangunan dewasa ini memerlukan persyaratan sifat keterbukaan semua pihak. Oleh karenanya, Kabupaten Lingga yang merupakan kawasan otonomi administrasi baru harus mencermati dan memahami filosofi paradigma baru tersebut. Sehingga pembangunan yang akan dilakukan harus terencana dan terarah, serta diketahui oleh khalayak komponen pembangunan di Kabupaten Lingga.
Berkaitan dengan hal tersebut, pokok-pokok pikiran pembangunan ini merupakan kontribusi pemikiran salah satu komponen pembangunan, yang dapat menjadi salah satu acuan/pedoman dalam merencanakan pembangunan di kawasan eks kewedanan Lingga menuju kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Untuk menuju kesejahteraan dan kemakmuran rakyat perlu kelengkapan pembangunan meliputi kesiapan infrastruktur, baik yang terus ditingkatkan maupun yang akan dikembangkan. Prasarana dan sarana merupakan fasilitas pendukung dan mutlak diperlukan, sebab sebagai penyokong aksesibilitas masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan insfrastruktur yang merangkai tiga pulau besar dan kecil sesuatu yang mutlak dilakukan di kawasan Kabupaten Lingga.
Partisipasi masyarakat secara menyeluruh secara proporsional mutlak diperlukan untuk mendukung semua pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu, kesatuan visi masyarakat harus dirangkai untuk membaca keagungan dalam menjemput kecemerlangan kawasan. Karena masyarakat jika berpartisipasi secara proporsional akan sejahtera melalui kemakmuran yang diraih bersama.

Posted on 10 Feb 2006 20:23:50 by Julita Saidi Last update on 11 Feb 2006 01:44:56
 
<< Prev       1 - 10 of 10        Next >>